makalah prilaku berbohong pada anak usia dini


PERILAKU BERBOHONG PADA ANAK USIA DINI

selamat membaca :)


Tugas ini untuk melengkapi tugas mata kuliah Kapita Selekta Anak Usia Dini
dengan dosen pengampu Dr. Nina Kurniah, M.pd dan Melia Eka Dariyanti, M.pd

Disusun Oleh :

Helga Yunia
A1I013067

      PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadiran allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, makalah yang berjudul “Prilaku Berbohong Pada Anak Usia Dini” dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktuny. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Anak Usia Dini tahun ajaran 2016. Dengan membuat tugas ini penulis harapkan mampu untuk memahami lagi tentang materi ini.
Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun berkat bimbingan dan bantuan dari beberapa pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis sadar, sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, sebagai upaya menyempurnaan makalah yang sudah kami buat. Semoga makalah ini dapat memberi manfaat tersendiri bagi pembacanya dan bagi semua orang lain.


Bengkulu,   Desember 2016



Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Menurut Al-Istambuli (2002:34), “Kecemasan orang tua disebabkan oleh timbulnya perbuatan negatif anak yang dapat merugikan masa depannya.” Kekhawatiran orang tua ini cukup beralasan sebab anak kemungkinan akan berbuat apa saja tanpa berpikir risiko yang akan ditanggungnya. Biasanya penyesalan baru 2 datang setelah anak menanggung segala risiko atas perbuatannya. Keadaan ini tentu akan mengancam masa depannya.
Menurut Prayitno (2004:55), “sumber-sumber permasalahan pada diri anak banyak terletak di luar sekolah.” Hal ini disebabkan oleh anak lebih lama berada di rumah dari pada di sekolah. Karena anak lebih lama berada di rumah, orang tualah yang seharusnya lebih memiliki wewenang untuk mendidik dan mengasuh anak tersebut.
Upaya guru dalam mengatasi masalah siswa yang tidak jujur atau sering berbohong selama ini adalah melakukan pendekatan pribadi, dimana guru dapat mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam sehingga dapat membantu dalam keseluruhan proses belajar mengajar , atau dengan kata lain, guru berfungsi sebagai pembimbing yang mampu untuk membantu tiap peserta didik dalam mengatasi masalah pribadi yang dihadapinya.
Berdasarkan data yang diperoleh terdapat beberapa anak yang kurang memiliki perilaku tidak jujur atau sering berbohong. Hal ini nampak sekali pada proses pembelajaran, mereka tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru dan ketika ditanya guru mereka mengatakan tidak memiliki alat tulis karena orang tua tidak memiliki uang untuk membeli alat tulis. Indikasi penunjang anak berprilaku berbohong yaitu anak sering memutar balikkan kebenaran, anak mengaku sudah mengerjakan pekerjaannya padahal belum. Dalam bercerita baik dengan guru dan teman anak sering melebih-lebihkan, dan anak sering menceritakan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selain itu anak sering menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang dibuatnya sendiri.
Upaya pencegahan yang dilakukan guru ketika siswa berbohong yaitu tidak memojokkan siswa dengan pertanyaan yang bersifat menuduh karena bagaimanapun juga setiap anak butuh diberi kepercayaan. Di samping itu, faktor lain yang mempengaruhi sikap berbohong siswa , adalah kurangnya pembiasaan ataupun latihan dari lingkungan keluarga. Lingkungan sosial anak yang kurang kondusif pula merupakan aspek yang mempengaruhi perilaku ketidakjujuran anak.
Berbohong pernah dilakukan oleh semua anak manapun. Memang wajar bahwa sekali waktu anak berbohong kepada orangtua. Akan tetapi, bila berbohong menjadi kebiasaan anak, orang tua dan guru tentu merasa jengkel. Dalam mencegah perilaku anak yang suka bohong, orangtua dan guru perlu memahami penyebab yang mendasari mengapa anak memilih untuk berkata bohong. Untuk menganalisa faktor penyebab anak berbohong maka penulis tertarik untuk mengangkat topik masalah berbohong pada anak usia dini menjadi judul penulisan makalah.
B.  Identifikasi Masalah
Berdasarkan pengamatan tentang permasalahan anak, terdapat beberapa masalah diantaranya sebagai berikut:
1.    Masih banyak anak yang cenderung tidak berkata jujur
2.    Terdapat anak yang memiliki perilaku tidak jujur atau sering berbohong
C.  Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini yaitu “bagaimana prilaku berbohong pada anak usia dini”?
D.  Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana prilaku berbohong pada anak usia dini


















BAB II
KAJIAN TEORI
A.  Pengertian Bohong
Menuru Ali syahbana (2005:38) Berbohong merupakan hal yang seringkali juga dilakukan anak-anak. Biasanya dilakukan dalam bentuk memutar balikkan kebenaran. Secara umum diyakini bahwa bohong artinya mengatakan sesuatu yang tidak ada dasar realitasnya. Misalnya saja mengatakan ada badai di laut padahal tidak 5 ada, mengatakan turut berduka padahal tidak berduka, mengatakan memiliki mainan padahal tidak punya.
Kebohongan juga bisa diartikan sebaliknya, yakni mengatakan sesuatu yang tidak ada padahal ada dalam realitasnya. Misalnya saja mengatakan tidak memiliki uang padahal punya, mengatakan tidak cemburu padahal cemburu, mengatakan tidak apa-apa padahal apa-apa. Cukup biasa terjadi mengatakan baikbaik saja padahal merintih perih karena tangan tergores pisau. Kebohongan yang mungkin terjadi bisa sebanyak fenomena yang mungkin terjadi di dunia. Setiap fenomena bisa dibuat versi bohongnya. Oleh sebab itu, berbohong luar biasa gampang karena tinggal men’tidak’kan apa yang ada saja. Misalnya, ada petir dibilang tidak ada, merasa capek tapi bilang tidak capek, bilang tidak punya uang ternyata punya. Pendeknya, merupakan bohong bila bilang tidak pada yang ada, dan bilang ada pada yang tidak ada.
Jujur seringkali diartikan sebagai lawan berbohong. Menurut Sri Rahmawati (2005:35),pengertian berbohong adalah menceritakan hal yang tidak benar secara sadar. Sebenarnya setiap anak pernah berbohong, namun ada yamg berkembang menjadi kebiasaan sampai tua, dan ada yang tidak berkembang. Misalnya, anak-anak usia sekolah dasar (6 – 8 tahun) suka melebih-lebihkan cerita. Hal ini terjadi karena mereka belum mampu membedakan antara fantasi dan realita. Itulah salah satu penyebab anak-anak pada umumnya sangat menyukai film kartun.
B.  Tanda – Tanda Anak Bohong
menurut halimah puspitasari dalam https://halimahpuspitasari. wordpress.com/2012/11/24/cara-mengatasi-anak-pembohong/ ada beberapa petunjuk yang bisa dilihat orangtua ketika anaknya berbohong, diantaranya:
1.      Ekspresi wajah
Ketika anak tidak berbohong, mukanya terlihat santai dan tenang, ketika berbohong wajahnya terlihat tegang dan tidak rileks.
2.      Kejelasan pernyataan
Orang tua harus mendengar dengan seksama apakah ada ketidak konsistenan, apakah pernyataannya masuk akal, dan apakah terdengar jujur.
3.      Spontanitas
Ketika anak tidak berbohong jawaban yang diberikan spontan, ketika berbohong jawaban seperti sudah dilatih.
4.      Gugup
Berbohong memiliki gejala yang hampir sama dengan ketegangan. Dalam berbagai situasi ketika anak berniat untuk berbohong, anak akan gugup saat mencoba menutupi kesalahannya.
5.      Perhatikan bahasa tubuh
Gelisah berlebihan. Perhatikan jika anak berbohong, menggaruk atau menggesek pakaiannya.
6.      Senyum berlebihan
Di samping dari tampilan menyeringai khas pembohong, studi menemukan orang tersenyum lebih banyak ketika mengatakan yang sebenarnya.
7.      Menghindari kontak mata
Matanya akan lebih sering berkedip atau berputar kearah lain. Hal ini mengindikasikan kondisi mental yang tidak nyaman
8.      Bingung saat berbicara
Saat dia berbohong, dia akan memikirkan tentang kesalahannya pada waktu yang sama. Hal ini akan mengganggu perhatiannya dalam percakapan tersebut.
9.      Bicara cepat atau menggunakan kalimat-kalimat pendek
Dia mencoba untuk menyudahi situasi itu secepatnya mungkin, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri anak ketika berbohong yang bisa dilihat orangtua yaitu ekspresi wajah, kejelasan pernyataan, spontanitas, gugup, perhatikan bahasa tubuh, tersenyum berlebihan, menghindari kontak mata, bingung saat berbicara, serta bicara cepat atau menggunakan kalimat-kalimat pendek. Dengan mengetahui ciri-ciri anak berbohong, orangtua dapat lebih mudah untuk mengubah prilaku buruk tersebut sebelum anak mengembangkan kebiasaan tersebut menjadi lebih parah.
C.  Perbedaan Bohong Besar Dan Bohong Kecil
Menurut wiratno dalam (http/www.pengertian berbohong). Bohong dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni bohong besar dan bohong kecil. Bohong besar adalah bohong yang menimbulkan dampak yang besar dan luas, serta sangat merugikan. Umumnya bohong besar tidak terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Bohong kecil tidak memberikan pengaruh merugikan yang luas. Bohong kecil adalah bohong yang biasa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga masyarakat dan juga telah biasa dilakukan oleh anak usia dini. Biasa juga dipraktekkan di antara sesama teman ataupun orang yang lebih dewasa. Pendek kata, bohong kecil adalah bohong yang sering dialami anak dan mungkin sering dilakukan dalam hidup sehari-hari.
D.    Bentuk-Bentuk Kebohongan
Adapun bentuk-bentuk kebohongan yang seringkali ditemukan pada anak antara lain:
1.    Penyangkalan sederhana
Misalnya : anak mengaku sudah minum padahal belum. Mengatakan sudah mandi padahal belum mandi.
2.    Mengurangi atau melebihkan
Misalnya: anak menceritakan kehebatan ibu gurunya secara berlebihan, “Ibu guruku bisa membuat robot sebesar rumah dan robot itu bisa bicara.” Padahal, ibu gurunya hanya membuat robot-robotan dan yang berbicara adalah gurunya.
3.    Mengarang
Misalnya: anak bercerita kepada temannya bahwa ia sudah sering naik pesawat terbang ke luar negeri padahal ia belum pernah melakukannya.
4.    Membuat tuduhan palsu
Misalnya: anak memecahkan gelas tetapi ia mengatakan bahwa yang memecahkan gelas itu adalah adiknya. 
E.   Faktor Penyebab Perilaku Bohong
Menurut Prayitno (2010:67),Faktor penyebab anak berbohong dipengaruhi oleh keluarga seperti Anak berbohong karena :
1.    Ingin dipuji, dikagumi. Keinginan anak untuk dikagumi, dipuji, membuat anak suka membuat cerita yang melebih-lebihkan tentang dirinya, atau menyombongkan hal yang sebenarnya tidak dipunyainya.
2.    Ingin menghindari hukuman atau sesuatu yang tidak menyenangkan
3.    Ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkannya
4.    Ingin melindungi teman
5.    Ingin mengakali/mencurangi orang lain.
Penyebab yang berasal dari lingkungan, Tuntutan yang terlalu tinggi Anak selalu menginginkan perhatian, pujian, dan penerimaan dari orangtua. Sebagian anak yang merasa tidak mampu memenuhi tuntutan orangtua, memilih berbohong untuk mendapatkan hal-hal itu.
Dalam artikel mom, anak suka berbohong? Kenali penyebab dan cara mengatasinya, alas an lain yang membuat anak memutuskan untuk berkata bohong diantaranya yaitu :
1.      Orangtua yang terlalu menuntut
Tanpa mom sadari, seringkali mom menuntut terlalu banyak hal kepada anak. Menuntut prestasi yang tinggi, menuntut nilai yang baik, harus rajin, harus menyukai satu bidang tertentu yang sebenarnya tidak diminatinya dan tuntutan lainnya. Anak memilih berbohong sebenarnya agar orangtua merasa lebih bahagia.
Untuk mengatasi hal ini sebaiknya Mom lebih memperhatikan apa yang diinginkannya. Pahami kemampuan dan minatnya dengan baik. Hindari memaksa keinginan Mom kepada anak. Hal yang terlihat baik menurut Mom belum tentu sesuai untuk anak. Hargai minat dan selalu dukung semua kegiatannya.
2.      Ingin Dipuji
Keinginan untuk dipuji dan membuat anak berbohong. Misalnya ia suka mengarang cerita dia memiliki prestasi yang baik dan memiliki mainan yang banyak. Keinginan untuk diakui dan diperhatikan seringkali menjadi alasan mengapa seorang anak berbohong.
Memberikan pujian kepada anak atas prestasinya akan membuat anak lebih bangga dan tampil lebih percaya diri. Pujian akan membuatnya merasa diakui dan dimengerti oleh orang sekitarnya terutama Mom sebagai orangtua.
3.      Takut Dihukum
Dalam satu studi menjelaskan jika hukuman pada anak justru akan membuat anak menjadi suka berbohong. Rasa khawatir pada anak membuatnya tidak berkata jujur. Ia beranggapan dengan berbohong ia dapat menghindari hukuman. Rasa takut inilah yang mendasari anak mengapa tidak memilih untuk jujur.
Saat anak melakukan kesalahan tidak perlu menghukumnya. Cobalah untuk menerima alasan dan penjelasannya. Tunjukkan bahwa apa yang anak lakukan adalah kesalahan, tanpa perlu membentaknya. Seruan keras dari Mom justru akan menumbuhkan trauma pada anak.
Mom, komunikasi antara anak dan orangtua akan menghindari kebiasaan bohong dan anak. Saat anak terbiasa jujur maka setiap masalah akan mudah diselesaikan. Hal ini juga dapat melatih moral anak sejak usia dini. Selamat mencoba dan semoga berhasil, Mom.

F.   Cara Mengatasi Prilaku Berbohong Anak
Cara orangtua dalam mengatasi anak yang suka berbohong anatar lain sebagai berikut:
1.    Pikirkan anak sangat rentang terhadap peristiwa disekitarnya. sekarang orangtua mengetahui mengapa anak berbohong. Pastikan orangtua memberikan contoh yang tepat bagi mereka untuk diikuti. Jangan berbohong terutama ketika anak-anak berada di dekat orangtua
2.    Ketika orantua menyadari bahwa anak anda berbohong akhir-akhir ini. Bicaralah dengan mereka. Jangan memarahi mereka tetapi orangtua harus memberitahu mereka bahwa itu adalah perilaku yang salah untuk berbohong kepada siapapun. Katakana kepada mereka konsekuensi dari berbohong dengan cerita seperti serigala dan gembala.
3.    Jika anak terbukti berbohong, orangtua bias menghukumnya. Buatlah anak untuk memahami bahwa apa yang dia lakukan adalah salah dan buatlah anak untuk tidak akan melakukannya lagi
4.    Dorong anak untuk membaca cerita pendek yang membangun moral dan etika mereka. Hal itu, akan membantu anak membangun sebuah karakter yang kuat ketika mereka tumbuh dengan mengajari mereka tentang baik dan buruk.
5.    Dorong anak untuk berbicara kebenaran dan buat mereka untuk menjadi pemberani
6.    Anak-anak juga mencontoh perilaku dari acara televise dan bahkan film kartun untuk anak-anak. Orangtua harus terus mengawasi apa yang anak tonton di TV
7.    Jangan memiliki harapan yang terlalu tinggi dari anak. Ketika orangtua membandingkan anaknya dengan anak-anak lain, maka dia sadar memiliki rasa takut dan mengecewakan orangtua. Ketika mereka tidak memenuhi harapan mereka dan takut mengecewakan orangtua, mereka mulai berbohong untuk menyembunyikan  kekurangan mereka. Buatlah anak merasa nyaman untuk berbagi hal-hal dengan orangtua sehingga orangtua dapat memberikan anak dukungan penuh untuk memperbaiki masalah tersebut.
8.    Anak-anak memiliki kebiasan membual kepada teman-teman mereka tentang apa yang mereka miliki untuk menegakkan superioritas mereka. Ini bukanlah pertanda baik karena mereka akan tumbuh menjadi salah satu dari orang-orang yang hanya peduli tentang uang dan mata duitan. Orangtua perlu membuat anak memahami bahwa mereka harus bersyukur kepada tuhan atas apa yang mereka miliki dan berusaha untuk mencapai apa yang mereka tidak milki. mereka akan belajar nilai kehidupan, bangga akan diri mereka, dan akan menjadi diri mereka sendiri.
9.    Ketika semua usaha orangtua tidak berhasil untuk membuat anak berhenti berbohong. Anda dapat membawanya ke psikiater.
Menurut Nurul Chomaria dalam buku 25 perilaku anak dan Solusinya (2013:134) cara orangtua menghadapi anak yang suka berbohong adalah sebagai berikut :
1.    Menjadi teladan kejujuran
2.    Mengajarkan nilai kejujuran dan buruknya kebohongan
3.    Mengajarkan kesederhanaan dan rasa bersyukur
4.    Menghindari marah yang tidak perlu dan tidak pada tempatnya
5.    Tunjukkan efek dari berbohong
6.    Menanamkan rasa percaya diri yang kuat
7.    Menjaga kepercayaan anak kepada orang tua
8.    Berfantasi tidak sama dengan berbohong
Jadi komunikasi antara anak dan orangtua akan menghindari kebiasaan bohong  anak. Saat anak terbiasa jujur maka setiap masalah akan mudah diselesaikan. Hal ini juga dapat melatih moral anak sejak usia dini.



BAB III
PEMBAHASAN
A.  Pokok Permasalahan
Pada dasarnya, anak berbohong dengan alasan yang berbeda-beda, sama dengan orang dewasa ketika berbohong. Yakni untuk menghindari hukuman karena mengelakkan tanggung jawab, melindungi teman, agar dipuji, ada untuk melindungi hal-hal yang sifatnya pribadi. Khususnya pada anak usia dini, mereka berbohong dengan alasan yang sifatnya kekanak-kanakan, seperti menguji kemampuan menghindar dari amarah orang tua, bagian dari imajinasi atau memang benar-benar suka membuat cerita.
Dampak yang ditimbulkan dari perilaku berbohong ini tidak hanya dosa, melainkan efek jangka panjang untuk anak tersebut. Dampak terburuk adalah anak menjadikan kebohongan sebagai sesuatu yang biasa dan dianggap benar. tidak ada rasa bersalah maupun mencari tahu apayang ia ucapkan. Dan lebih buruk lagi kebohongan ini berdampak pula pada sikap dan karakternya dikemudian hari. ketika bersalah diamemungkiri kesalahannya, ketika ujian dia mencontek, ketika bekerja diamenyelewengkan tanggung jawabnya, seperti para koruptor.
Adapun cara-cara yang dapat dilakukan dalam menangani anak yang suka berbohong yaitu dengan cara jangan memojokkan anak untuk mengakui kebohongannya tetapi akan lebih baik jika melakukan pendekatan dengan cara yang bersahabat, cari tahu penyebab anak melakukan kebohongan, hukum anak dengan hukuman yang mendidik, kemudian kendalikan perilaku atau tingkah laku berbohong di depan anak.

C. Harapan Penulisan
Dalam penulisan makalah yang berjudul perilaku berbohong pada anak usia dini, penulis berharap dapat merubah pola pikir masyarakat terutama orangtua untuk lebih berhati-hati dalam berkata-kata kepada anaknya terutama pada anak yang masih berusia dini agar anak terjauh dari sifat berbohong.
Orangtua sebaiknya lebih memberikan perhatian khusus kepada anak mereka, karena usia dini anak adalah waktu yang tepat untuk mengelola kecerdasan emosi pada anak-anak. Sebagai orangtua haruslah menanamkan nilai-nilai kejujuran pada anak sejak usia 0-6 tahun, meskipun orangtua tidak biasa mencegah anak untuk belajar konsep bohong, tetapi orangtua biasa menghentikan anak untuk meniru hal-hal negative.















BAB IV
PENUTUP
A.  Simpulan
Berbohong adalah memberitakan tidak sesuai dengan kebenaran, baik dengan ucapan lisan secara tegas maupun dengan isyarat. ciri-ciri anak ketika berbohong yang bisa dilihat orangtua yaitu ekspresi wajah, kejelasan pernyataan, spontanitas, gugup, perhatikan bahasa tubuh, tersenyum berlebihan, menghindari kontak mata, bingung saat berbicara, serta bicara cepat atau menggunakan kalimat-kalimat pendek. Adapun bentuk-bentuk kebohongan yang sering ditemukan pada anak yaitu penyangkalan sederhana, mengurangi atau melebihkan, mengarang, dan membuat tuduhan palsu. Kebanyakan  faktor-faktor yang penyebab prilaku berbohong pada anak yaitu contoh yang keliru, takut hukuman atau sangsi, agar diterima pihak lain, dan agar menyengkan pihak lain, selain itu faktor lain yang menyebabkan anak berbohong yaitu Ingin dipuji dan dikagumi, , Ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, Ingin melindungi teman, serta Ingin mengakali/mencurangi orang lain. Jadi komunikasi antara anak dan orangtua akan menghindari kebiasaan bohong  anak. Saat anak terbiasa jujur maka setiap masalah akan mudah diselesaikan. Hal ini juga dapat melatih moral anak sejak usia dini.
B.  Saran
Makalah ini masih memiliki berbagai jenis kekurangan oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkanSaran




DAFTAR PUSTAKA
Chomaria, Nurul.  (2013). 25 Perilaku Anak Dan Solusinya. Jakarta: PT Elek Media Komputindo
Istambuli. 2002. Perkembangan Peserta Didik, Rineka Cipta
Prayitno. 2004. Penddikan Anak Sekolah Dasar Edisi 1, Bandung: Rineka Cipta
Prayitno. 2010. Penddikan Anak Sekolah Dasar Edisi 2, Bandung: Rineka Cipta
Puspitasari, Halimah. (2012). Cara Mengatasi Anak Berbohong. Jakarta: diunduh dari https://halimahpuspitasari.wordpress.com/2012/ 11/24/cara-mengatasi-anak-pembohong/. Diakses pada tanggal 7 Desember 2016
Ririn, Listyawati. (2013). Perilaku Berbohong Pada Anak Usia Dini. Surakarta: diunduh dari http://rhirinliestyawati.blogspot. co.id/2013/07/perilaku-berbohong-pada-anak-usiadini.html. Diakses Pada Tanggal 7 Desember 2016
Sri Rahmawati. (2008). Menyikapi Anak Berbohong, dalam UMMI, Jakarta: Edisi No. 6/XII/2000
Syahbana, Ali. (2005). Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Balai Pustaka


Comments

Popular posts from this blog

Laporan Magang pendidikan Anak Usia Dini

makalah parenting kunjungan rumah (home visit)