makalah prilaku berbohong pada anak usia dini
PERILAKU BERBOHONG PADA ANAK USIA
DINI
Tugas ini untuk
melengkapi tugas mata kuliah Kapita Selekta Anak Usia Dini
dengan dosen pengampu Dr. Nina Kurniah, M.pd dan Melia Eka Dariyanti, M.pd
Disusun Oleh :
Helga Yunia
A1I013067
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN
GURU PENDIDIKAN ANAK
USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadiran allah SWT, karena berkat rahmat dan
karunia-Nya, makalah yang berjudul “Prilaku Berbohong Pada Anak Usia Dini”
dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktuny. Adapun tujuan penulisan
makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan
Anak Usia Dini tahun ajaran 2016. Dengan membuat tugas ini penulis harapkan
mampu untuk memahami lagi tentang materi ini.
Dalam
penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan, terutama
disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun berkat bimbingan
dan bantuan dari beberapa pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis
sadar, sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan
makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, sebagai upaya
menyempurnaan makalah yang sudah kami buat. Semoga makalah ini dapat memberi
manfaat tersendiri bagi pembacanya dan bagi semua orang lain.
Bengkulu, Desember 2016
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Al-Istambuli
(2002:34), “Kecemasan orang tua disebabkan oleh timbulnya perbuatan negatif
anak yang dapat merugikan masa depannya.” Kekhawatiran orang tua ini cukup
beralasan sebab anak kemungkinan akan berbuat apa saja tanpa berpikir risiko
yang akan ditanggungnya. Biasanya penyesalan baru 2 datang setelah anak
menanggung segala risiko atas perbuatannya. Keadaan ini tentu akan mengancam
masa depannya.
Menurut Prayitno
(2004:55), “sumber-sumber permasalahan pada diri anak banyak terletak di luar
sekolah.” Hal ini disebabkan oleh anak lebih lama berada di rumah dari pada di
sekolah. Karena anak lebih lama berada di rumah, orang tualah yang seharusnya
lebih memiliki wewenang untuk mendidik dan mengasuh anak tersebut.
Upaya guru dalam
mengatasi masalah siswa yang tidak jujur atau sering berbohong selama ini
adalah melakukan pendekatan pribadi, dimana guru dapat mengenal dan memahami
siswa secara lebih mendalam sehingga dapat membantu dalam keseluruhan proses
belajar mengajar , atau dengan kata lain, guru berfungsi sebagai pembimbing
yang mampu untuk membantu tiap peserta didik dalam mengatasi masalah pribadi
yang dihadapinya.
Berdasarkan data yang
diperoleh terdapat beberapa anak yang kurang memiliki perilaku tidak jujur atau
sering berbohong. Hal ini nampak sekali pada proses pembelajaran, mereka tidak
mengerjakan tugas yang diberikan guru dan ketika ditanya guru mereka mengatakan
tidak memiliki alat tulis karena orang tua tidak memiliki uang untuk membeli alat
tulis. Indikasi penunjang anak berprilaku berbohong yaitu anak sering memutar
balikkan kebenaran, anak mengaku sudah mengerjakan pekerjaannya padahal belum.
Dalam bercerita baik dengan guru dan teman anak sering melebih-lebihkan, dan
anak sering menceritakan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selain itu anak
sering menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang dibuatnya sendiri.
Upaya pencegahan yang
dilakukan guru ketika siswa berbohong yaitu tidak memojokkan siswa dengan
pertanyaan yang bersifat menuduh karena bagaimanapun juga setiap anak butuh
diberi kepercayaan. Di samping itu, faktor lain yang mempengaruhi sikap
berbohong siswa , adalah kurangnya pembiasaan ataupun latihan dari lingkungan
keluarga. Lingkungan sosial anak yang kurang kondusif pula merupakan aspek yang
mempengaruhi perilaku ketidakjujuran anak.
Berbohong pernah
dilakukan oleh semua anak manapun. Memang wajar bahwa sekali waktu anak
berbohong kepada orangtua. Akan tetapi, bila berbohong menjadi kebiasaan anak,
orang tua dan guru tentu merasa jengkel. Dalam mencegah perilaku anak yang suka
bohong, orangtua dan guru perlu memahami penyebab yang mendasari mengapa anak
memilih untuk berkata bohong. Untuk menganalisa faktor penyebab anak berbohong
maka penulis tertarik untuk mengangkat topik masalah berbohong pada anak usia
dini menjadi judul penulisan makalah.
B. Identifikasi
Masalah
Berdasarkan
pengamatan tentang permasalahan anak, terdapat beberapa masalah diantaranya
sebagai berikut:
1. Masih
banyak anak yang cenderung tidak berkata jujur
2. Terdapat
anak yang memiliki perilaku tidak
jujur atau sering berbohong
C. Rumusan
Masalah
Sesuai
dengan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan masalah dalam
makalah ini yaitu “bagaimana prilaku berbohong pada anak usia dini”?
D. Tujuan
Tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana prilaku berbohong
pada anak usia dini
BAB
II
KAJIAN
TEORI
A. Pengertian
Bohong
Menuru Ali syahbana (2005:38) Berbohong merupakan
hal yang seringkali juga dilakukan anak-anak. Biasanya dilakukan dalam bentuk
memutar balikkan kebenaran. Secara umum diyakini bahwa bohong artinya
mengatakan sesuatu yang tidak ada dasar realitasnya. Misalnya saja mengatakan
ada badai di laut padahal tidak 5 ada, mengatakan turut berduka padahal tidak
berduka, mengatakan memiliki mainan padahal tidak punya.
Kebohongan juga bisa diartikan sebaliknya, yakni
mengatakan sesuatu yang tidak ada padahal ada dalam realitasnya. Misalnya saja
mengatakan tidak memiliki uang padahal punya, mengatakan tidak cemburu padahal
cemburu, mengatakan tidak apa-apa padahal apa-apa. Cukup biasa terjadi
mengatakan baikbaik saja padahal merintih perih karena tangan tergores pisau.
Kebohongan yang mungkin terjadi bisa sebanyak fenomena yang mungkin terjadi di
dunia. Setiap fenomena bisa dibuat versi bohongnya. Oleh sebab itu, berbohong
luar biasa gampang karena tinggal men’tidak’kan apa yang ada saja. Misalnya,
ada petir dibilang tidak ada, merasa capek tapi bilang tidak capek, bilang
tidak punya uang ternyata punya. Pendeknya, merupakan bohong bila bilang tidak
pada yang ada, dan bilang ada pada yang tidak ada.
Jujur seringkali diartikan sebagai lawan berbohong.
Menurut Sri Rahmawati (2005:35),pengertian berbohong adalah menceritakan hal
yang tidak benar secara sadar. Sebenarnya setiap anak pernah berbohong, namun
ada yamg berkembang menjadi kebiasaan sampai tua, dan ada yang tidak
berkembang. Misalnya, anak-anak usia sekolah dasar (6 – 8 tahun) suka
melebih-lebihkan cerita. Hal ini terjadi karena mereka belum mampu membedakan antara
fantasi dan realita. Itulah salah satu penyebab anak-anak pada umumnya sangat
menyukai film kartun.
B.
Tanda
– Tanda Anak Bohong
menurut halimah puspitasari
dalam https://halimahpuspitasari.
wordpress.com/2012/11/24/cara-mengatasi-anak-pembohong/ ada beberapa petunjuk
yang bisa dilihat orangtua ketika anaknya berbohong, diantaranya:
1.
Ekspresi wajah
Ketika
anak tidak berbohong, mukanya terlihat santai dan tenang, ketika berbohong
wajahnya terlihat tegang dan tidak rileks.
2.
Kejelasan pernyataan
Orang
tua harus mendengar dengan seksama apakah ada ketidak konsistenan, apakah
pernyataannya masuk akal, dan apakah terdengar jujur.
3.
Spontanitas
Ketika
anak tidak berbohong jawaban yang diberikan spontan, ketika berbohong jawaban
seperti sudah dilatih.
4.
Gugup
Berbohong
memiliki gejala yang hampir sama dengan ketegangan. Dalam berbagai situasi
ketika anak berniat untuk berbohong, anak akan gugup saat mencoba menutupi
kesalahannya.
5.
Perhatikan bahasa tubuh
Gelisah
berlebihan. Perhatikan jika anak berbohong, menggaruk atau menggesek
pakaiannya.
6.
Senyum berlebihan
Di
samping dari tampilan menyeringai khas pembohong, studi menemukan orang
tersenyum lebih banyak ketika mengatakan yang sebenarnya.
7.
Menghindari kontak mata
Matanya
akan lebih sering berkedip atau berputar kearah lain. Hal ini mengindikasikan
kondisi mental yang tidak nyaman
8.
Bingung saat berbicara
Saat
dia berbohong, dia akan memikirkan tentang kesalahannya pada waktu yang sama.
Hal ini akan mengganggu perhatiannya dalam percakapan tersebut.
9.
Bicara cepat atau menggunakan kalimat-kalimat pendek
Dia
mencoba untuk menyudahi situasi itu secepatnya mungkin, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa ciri-ciri anak ketika berbohong yang bisa dilihat orangtua yaitu ekspresi
wajah, kejelasan pernyataan, spontanitas, gugup, perhatikan bahasa tubuh,
tersenyum berlebihan, menghindari kontak mata, bingung saat berbicara, serta
bicara cepat atau menggunakan kalimat-kalimat pendek. Dengan mengetahui
ciri-ciri anak berbohong, orangtua dapat lebih mudah untuk mengubah prilaku
buruk tersebut sebelum anak mengembangkan kebiasaan tersebut menjadi lebih
parah.
C. Perbedaan
Bohong Besar Dan Bohong Kecil
Menurut wiratno dalam (http/www.pengertian
berbohong). Bohong dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni bohong besar dan
bohong kecil. Bohong besar adalah bohong yang menimbulkan dampak yang besar dan
luas, serta sangat merugikan. Umumnya bohong besar tidak terjadi dalam
kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Bohong kecil tidak memberikan pengaruh
merugikan yang luas. Bohong kecil adalah bohong yang biasa dipraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari oleh warga masyarakat dan juga telah biasa dilakukan oleh
anak usia dini. Biasa juga dipraktekkan di antara sesama teman ataupun orang
yang lebih dewasa. Pendek kata, bohong kecil adalah bohong yang sering dialami
anak dan mungkin sering dilakukan dalam hidup sehari-hari.
D.
Bentuk-Bentuk
Kebohongan
Adapun
bentuk-bentuk kebohongan yang seringkali ditemukan pada anak antara lain:
1.
Penyangkalan
sederhana
Misalnya : anak mengaku sudah minum
padahal belum. Mengatakan sudah mandi padahal belum mandi.
2.
Mengurangi atau
melebihkan
Misalnya: anak menceritakan kehebatan
ibu gurunya secara berlebihan, “Ibu guruku bisa membuat robot sebesar rumah dan
robot itu bisa bicara.” Padahal, ibu gurunya hanya membuat robot-robotan dan
yang berbicara adalah gurunya.
3.
Mengarang
Misalnya: anak bercerita kepada temannya
bahwa ia sudah sering naik pesawat terbang ke luar negeri padahal ia belum
pernah melakukannya.
4.
Membuat tuduhan
palsu
Misalnya: anak memecahkan gelas tetapi
ia mengatakan bahwa yang memecahkan gelas itu adalah adiknya.
E. Faktor
Penyebab Perilaku Bohong
Menurut
Prayitno (2010:67),Faktor penyebab anak berbohong dipengaruhi oleh keluarga
seperti Anak berbohong karena :
1. Ingin
dipuji, dikagumi. Keinginan anak untuk dikagumi, dipuji, membuat anak suka
membuat cerita yang melebih-lebihkan tentang dirinya, atau menyombongkan hal
yang sebenarnya tidak dipunyainya.
2. Ingin
menghindari hukuman atau sesuatu yang tidak menyenangkan
3. Ingin
mendapatkan sesuatu yang diinginkannya
4. Ingin
melindungi teman
5. Ingin
mengakali/mencurangi orang lain.
Penyebab yang
berasal dari lingkungan, Tuntutan yang terlalu tinggi Anak selalu menginginkan
perhatian, pujian, dan penerimaan dari orangtua. Sebagian anak yang merasa
tidak mampu memenuhi tuntutan orangtua, memilih berbohong untuk mendapatkan
hal-hal itu.
Dalam artikel
mom, anak suka berbohong? Kenali penyebab dan cara mengatasinya, alas an lain
yang membuat anak memutuskan untuk berkata bohong diantaranya yaitu :
1.
Orangtua yang terlalu menuntut
Tanpa mom sadari, seringkali mom menuntut
terlalu banyak hal kepada anak. Menuntut prestasi yang tinggi, menuntut nilai yang baik, harus rajin,
harus menyukai satu bidang tertentu yang sebenarnya tidak diminatinya dan
tuntutan lainnya. Anak memilih berbohong sebenarnya agar orangtua merasa lebih
bahagia.
Untuk
mengatasi hal ini sebaiknya Mom lebih memperhatikan apa yang diinginkannya.
Pahami kemampuan dan minatnya dengan baik. Hindari memaksa keinginan Mom kepada
anak. Hal yang terlihat baik menurut Mom belum tentu sesuai untuk anak. Hargai
minat dan selalu dukung semua kegiatannya.
2.
Ingin Dipuji
Keinginan
untuk dipuji dan membuat anak berbohong. Misalnya ia suka mengarang cerita dia
memiliki prestasi yang baik dan memiliki mainan yang banyak. Keinginan untuk
diakui dan diperhatikan seringkali menjadi alasan mengapa seorang anak
berbohong.
Memberikan
pujian kepada anak atas prestasinya akan membuat anak lebih bangga dan tampil
lebih percaya diri. Pujian akan membuatnya merasa diakui dan dimengerti oleh
orang sekitarnya terutama Mom sebagai orangtua.
3.
Takut Dihukum
Dalam
satu studi menjelaskan jika hukuman pada anak justru akan membuat anak menjadi
suka berbohong. Rasa khawatir pada anak membuatnya tidak berkata jujur. Ia
beranggapan dengan berbohong ia dapat menghindari hukuman. Rasa takut inilah
yang mendasari anak mengapa tidak memilih untuk jujur.
Saat
anak melakukan kesalahan tidak perlu menghukumnya. Cobalah untuk menerima
alasan dan penjelasannya. Tunjukkan bahwa apa yang anak lakukan adalah
kesalahan, tanpa perlu membentaknya. Seruan keras dari Mom justru akan
menumbuhkan trauma pada anak.
Mom, komunikasi antara anak dan orangtua akan menghindari
kebiasaan bohong dan anak. Saat anak terbiasa jujur maka setiap masalah akan
mudah diselesaikan. Hal ini juga dapat melatih moral anak sejak usia dini.
Selamat mencoba dan semoga berhasil, Mom.
F. Cara
Mengatasi Prilaku Berbohong Anak
Cara
orangtua dalam mengatasi anak yang suka berbohong anatar lain sebagai berikut:
1. Pikirkan
anak sangat rentang terhadap peristiwa disekitarnya. sekarang orangtua
mengetahui mengapa anak berbohong. Pastikan orangtua memberikan contoh yang
tepat bagi mereka untuk diikuti. Jangan berbohong terutama ketika anak-anak
berada di dekat orangtua
2. Ketika
orantua menyadari bahwa anak anda berbohong akhir-akhir ini. Bicaralah dengan
mereka. Jangan memarahi mereka tetapi orangtua harus memberitahu mereka bahwa
itu adalah perilaku yang salah untuk berbohong kepada siapapun. Katakana kepada
mereka konsekuensi dari berbohong dengan cerita seperti serigala dan gembala.
3. Jika
anak terbukti berbohong, orangtua bias menghukumnya. Buatlah anak untuk
memahami bahwa apa yang dia lakukan adalah salah dan buatlah anak untuk tidak
akan melakukannya lagi
4. Dorong
anak untuk membaca cerita pendek yang membangun moral dan etika mereka. Hal
itu, akan membantu anak membangun sebuah karakter yang kuat ketika mereka
tumbuh dengan mengajari mereka tentang baik dan buruk.
5. Dorong
anak untuk berbicara kebenaran dan buat mereka untuk menjadi pemberani
6. Anak-anak
juga mencontoh perilaku dari acara televise dan bahkan film kartun untuk
anak-anak. Orangtua harus terus mengawasi apa yang anak tonton di TV
7. Jangan
memiliki harapan yang terlalu tinggi dari anak. Ketika orangtua membandingkan
anaknya dengan anak-anak lain, maka dia sadar memiliki rasa takut dan
mengecewakan orangtua. Ketika mereka tidak memenuhi harapan mereka dan takut
mengecewakan orangtua, mereka mulai berbohong untuk menyembunyikan kekurangan mereka. Buatlah anak merasa nyaman
untuk berbagi hal-hal dengan orangtua sehingga orangtua dapat memberikan anak
dukungan penuh untuk memperbaiki masalah tersebut.
8. Anak-anak
memiliki kebiasan membual kepada teman-teman mereka tentang apa yang mereka
miliki untuk menegakkan superioritas mereka. Ini bukanlah pertanda baik karena
mereka akan tumbuh menjadi salah satu dari orang-orang yang hanya peduli
tentang uang dan mata duitan. Orangtua perlu membuat anak memahami bahwa mereka
harus bersyukur kepada tuhan atas apa yang mereka miliki dan berusaha untuk
mencapai apa yang mereka tidak milki. mereka akan belajar nilai kehidupan,
bangga akan diri mereka, dan akan menjadi diri mereka sendiri.
9. Ketika
semua usaha orangtua tidak berhasil untuk membuat anak berhenti berbohong. Anda
dapat membawanya ke psikiater.
Menurut Nurul
Chomaria dalam buku 25 perilaku anak dan Solusinya (2013:134) cara orangtua
menghadapi anak yang suka berbohong adalah sebagai berikut :
1. Menjadi
teladan kejujuran
2. Mengajarkan
nilai kejujuran dan buruknya kebohongan
3. Mengajarkan
kesederhanaan dan rasa bersyukur
4. Menghindari
marah yang tidak perlu dan tidak pada tempatnya
5. Tunjukkan
efek dari berbohong
6. Menanamkan
rasa percaya diri yang kuat
7. Menjaga
kepercayaan anak kepada orang tua
8. Berfantasi
tidak sama dengan berbohong
Jadi komunikasi antara anak dan
orangtua akan menghindari kebiasaan bohong
anak. Saat anak terbiasa jujur maka setiap masalah akan mudah
diselesaikan. Hal ini juga dapat melatih moral anak sejak usia dini.
BAB
III
PEMBAHASAN
A. Pokok
Permasalahan
Pada dasarnya, anak
berbohong dengan alasan yang berbeda-beda, sama dengan orang dewasa ketika
berbohong. Yakni untuk menghindari hukuman karena mengelakkan tanggung jawab,
melindungi teman, agar dipuji, ada untuk melindungi hal-hal yang sifatnya
pribadi. Khususnya pada anak usia dini, mereka berbohong dengan alasan yang
sifatnya kekanak-kanakan, seperti menguji kemampuan menghindar dari amarah
orang tua, bagian dari imajinasi atau memang benar-benar suka membuat cerita.
Dampak yang ditimbulkan
dari perilaku berbohong ini tidak hanya
dosa, melainkan efek jangka panjang untuk anak tersebut. Dampak terburuk
adalah anak menjadikan kebohongan sebagai sesuatu yang biasa dan dianggap
benar. tidak ada rasa bersalah maupun mencari tahu apayang ia ucapkan. Dan
lebih buruk lagi kebohongan ini berdampak
pula pada sikap dan karakternya dikemudian hari. ketika bersalah diamemungkiri
kesalahannya, ketika ujian dia mencontek, ketika bekerja diamenyelewengkan
tanggung jawabnya, seperti para koruptor.
Adapun cara-cara yang
dapat dilakukan dalam menangani anak yang suka berbohong yaitu dengan cara
jangan memojokkan anak untuk mengakui kebohongannya tetapi akan lebih baik jika
melakukan pendekatan dengan cara yang bersahabat, cari tahu penyebab anak
melakukan kebohongan, hukum anak dengan hukuman yang mendidik, kemudian
kendalikan perilaku atau tingkah laku berbohong di depan anak.
C. Harapan Penulisan
Dalam penulisan makalah yang berjudul perilaku
berbohong pada anak usia dini, penulis berharap dapat merubah pola pikir
masyarakat terutama orangtua untuk lebih berhati-hati dalam berkata-kata kepada
anaknya terutama pada anak yang masih berusia dini agar anak terjauh dari sifat
berbohong.
Orangtua sebaiknya lebih memberikan perhatian khusus
kepada anak mereka, karena usia dini anak adalah waktu yang tepat untuk
mengelola kecerdasan emosi pada anak-anak. Sebagai orangtua haruslah menanamkan
nilai-nilai kejujuran pada anak sejak usia 0-6 tahun, meskipun orangtua tidak
biasa mencegah anak untuk belajar konsep bohong, tetapi orangtua biasa
menghentikan anak untuk meniru hal-hal negative.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Berbohong
adalah memberitakan tidak sesuai dengan kebenaran, baik dengan ucapan lisan
secara tegas maupun dengan isyarat. ciri-ciri anak ketika
berbohong yang bisa dilihat orangtua yaitu ekspresi wajah, kejelasan
pernyataan, spontanitas, gugup, perhatikan bahasa tubuh, tersenyum berlebihan,
menghindari kontak mata, bingung saat berbicara, serta bicara cepat atau
menggunakan kalimat-kalimat pendek. Adapun bentuk-bentuk
kebohongan yang sering ditemukan pada anak yaitu penyangkalan sederhana,
mengurangi atau melebihkan, mengarang, dan membuat tuduhan palsu.
Kebanyakan faktor-faktor yang penyebab
prilaku berbohong pada anak yaitu contoh yang keliru, takut hukuman atau
sangsi, agar diterima pihak lain, dan agar menyengkan pihak lain, selain itu
faktor lain yang menyebabkan anak berbohong yaitu Ingin dipuji dan dikagumi, ,
Ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, Ingin melindungi teman, serta
Ingin mengakali/mencurangi orang lain. Jadi komunikasi antara anak dan
orangtua akan menghindari kebiasaan bohong
anak. Saat anak terbiasa jujur maka setiap masalah akan mudah diselesaikan.
Hal ini juga dapat melatih moral anak sejak usia dini.
B. Saran
Makalah
ini masih memiliki berbagai jenis kekurangan oleh karena itu kritik dan saran
yang membangun sangat penulis harapkanSaran
DAFTAR
PUSTAKA
Chomaria, Nurul. (2013). 25
Perilaku Anak Dan Solusinya. Jakarta: PT Elek Media Komputindo
Istambuli.
2002. Perkembangan Peserta Didik,
Rineka Cipta
Prayitno. 2004. Penddikan Anak Sekolah Dasar Edisi 1, Bandung: Rineka Cipta
Prayitno. 2010. Penddikan Anak Sekolah Dasar Edisi 2, Bandung: Rineka Cipta
Puspitasari,
Halimah. (2012). Cara Mengatasi Anak
Berbohong. Jakarta: diunduh dari https://halimahpuspitasari.wordpress.com/2012/
11/24/cara-mengatasi-anak-pembohong/.
Diakses pada tanggal 7 Desember 2016
Ririn,
Listyawati. (2013). Perilaku Berbohong Pada Anak Usia Dini. Surakarta: diunduh
dari http://rhirinliestyawati.blogspot.
co.id/2013/07/perilaku-berbohong-pada-anak-usiadini.html.
Diakses Pada Tanggal 7 Desember 2016
Sri Rahmawati. (2008). Menyikapi Anak Berbohong, dalam UMMI, Jakarta: Edisi No. 6/XII/2000
Syahbana, Ali. (2005). Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Balai Pustaka


Comments
Post a Comment